27 Day’s For Mama, Papa


Makassar, 22 Jumadil Akhir 1434 H599459_374208309359008_1826357416_n

Pulang kampung, mudik lagi, malas dech sudah keasyikan di kota sich, tapi mendengar pertanyaan papa dari kampung halaman yang jauh di ujung pulau sulawesi, yang harus menempuh jarak sekitar 12 jam. Kapan balik, kapan balik, kapan balik, hampir tiga kali pertanyaan itu terlontar dari ucapannya. Pertanyaan pertama, rasanya biasa saja, seperti sebuah kata yang wajar dan lazim dari seorang papa kepada anaknya. Minggu berikutnya dengan pertanyaan yang sama, sudah mulai terpatri di dalam hatiku, tapi aku masih biasa saja, mengharapkan sebuah angin datang menyapa untuk menghilangkan pertanyaan tersebut hingga aku melupakannya. Minggu berikutnya, setiap Kakak nelpon, pertanyaan itu, menyapa lagi “ Kapan balik kata papa ”.

“Kapan  balik”, kenapa yach papa selalu mengharapkan untuk segera balik ke kampung, bagai aku mahu dijodohkan saja sama lelaki pilihan Papa. Eettss… tidaklah, hehe. Papa kangen pastinya sama aku, si anak cantik dan sholehah, Bapak kangen dengan perhatian aku, Papa kangen dengan kasih sayang dan cinta yang telah kuberikan padanya, meski hal itu tidaklah secara langsung terucap dari bibirnya, aku tahu Papa kangen dengan kehadiranku, Papa kangen untuk selalu melihatku, Papa, Mama, aku selalu kangen dan sayang pada kalian, meski kadang begitu banyak tingkahku yang menyakiti hatimu, ma’afkan anakmu ini, itu semua khilaf yang tak mampu kubendung saat itu.

Mengapa aku jadi maless mudik ?, biasalah dalam sebuah keluarga, kadang ada masalah, kadang damai, kadang harus meneteskan air mata baik itu sedih ataupun bahagia, kadang harus saling menyakiti dan menyayangi, yah, itulah bumbu dari sebuah keluarga, silih bergantinya sebuah masa, memiliki hikmah tertentu, jika masa dalam rumah sedang kurang sedap, aku jadi males tuk mudik, tapi demi harapan Papak dan Mama yang sangat mengharapkan aku segera mudik, maka aku laksanakan.

Apa yang harus kulakukan buat kalian, untuk mengabdikan sisa usiaku melayani selama masa liburan, setiap kali aku merenungkan khilaf yang telah kulakukan, tak terasa cucuran airmata menghiasi pipi, tak ingin rasanya menghapus airmata ini, agar hati ini lega dari beban rasa bersalah dan berdosa kepada kalian duhai Papa dan Mamaku tersayang dan tercinta.

Hari-hari pertama hingga sekitar hari ke 10 aku berada di kampung halaman, aku tidak sempat memberikan perhatian yang full  buat Papa dan Mama, sibuk mengerjakan segala pekerjaan rumah, memasuki hari ke 17, insyaAllah sisa liburan ini, akan aku gunakan untuk melakukan kegiatan rutin buat papa mamaku tersayang dan tercinta

Kegiatan rutin Buat Papa :

  1. Menyiapkan Sarapan sekitar pukul 07.00 – 08.00
  2. Mengurut/pijat setiap pagi  sekitar pukul 08.30 dan sore sekitar pukul 16.00 atau malam sekitar pukul 17.30
  3. Menyiapkan air mandi dan membantu Bapak membersihkan tubuhnya setiap pagi sekitar pukul 09.00 – 10.00 dan sore hari sekitar pukul 16.30
  4. Membuatkan cemilan/gorengan sekitar pukul 10.00 pagi hari dan sore hari sekitar pukul 15.00
  5. Menyiapkan menu untuk makan siang 10.30 – 01.00, makan malam 18.30 – 19.30
  6. Membantu untuk Wudhu setiap ingin melaksanakan sholat
  7. Membereskan kamar tidur

Kegiatan rutin buat Mama

1. Memperhatikan Sarapan, Makan siang serta makan malam
2. Mengurut/pijat sehabis mengurut Papa
3. Membereskan kamar tidur
5. Mengepel lantai
5. Menyapu dalam rumah
6. Mencuci piring
7. Memasak
8. Melipat pakaian serta menyusun rapi di dalam lemari

Kesibukan memberikan perhatian penuh buat papa dan mama, sangatlah berkesan, setiap kali aku mencuri pandangan untuk menatap wajah mereka, menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala, hati rasanya menangis, entah merasa sedih atau merasa kasihan melihat keadaan mereka yang sudah semakin rentang. Menatap wajahnya, seakan memberikan isyarat kepadaku untuk terus menyayangi dan memberikan perhatian.

Usia Papa yang kini memasuki 68 tahun dan mama 65 tahun, raut wajah yang diselimuti oleh keriput, gigi yang telah gugur satu per satu, rambut perlahan memutih dan menghiasi kepala mereka, tatih langkah yang tak tegap lagi, inikah orangtuaku saat ini, yang dahulu tak pernah kupandang dengan penuh cinta kasih. Perhatian antara Papa dan Mama, memang berbeda, Papa membutuhkan lebih perhatian dari Mama, melihat keadaan Papa yang terserang sebuah ujian dari Allah SWT.

 Bapak, Mama, semoga secuil bentuk cinta serta perhatian yang kuberikan, mampu menorehkan kebahagiaan dan kebanggaan, engkau telah merawat dan membesarkanku

Bapak, Mama

Meski sejuta perhatian kuberi kepadamu

Tak mampu membalas segala perhatian yang telah engkau beri kepadaku

Hanya sedetik aku menyayangimu

Buatmu sudah lebih dari cukup

( Kenangan, 20 Januari 2013 – 17 Februari 2013 )

Iklan

14 thoughts on “27 Day’s For Mama, Papa

  1. Mengurus dan membantu orang tua setiap hari adalah hal yang menyenangkan.
    selalu ada tawa dan cerita di sela-sela kegiatan.
    Semoga papa dan mama selalu dimudahkan dalam segala urusan ^_^

    • iya mbak siti, mengurus ortu adalah hal yang paling menyenangkan jika dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang

      Amin ya Allah, makasih atas do’anya

      salam ukhuwah

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Neni….

    Alhamdulillah, akhirnya Umi sampai juga kemari untuk memeriahkan blog Neni yang sudah sepi sekian lama.

    Biar Umi baca duluan ya. nanti menyapa lagi. mahu hayati dulu kegiatan Neni di sana. 😀
    Salam sayang dari Umi yang jauh. 😀

    • wa alaikum salam wr. wb. umiku syng
      emang ummi darimn , jauh bener jalannya baru tiba disini 😀

      ummi bagai detektif aj yach, mengamati segala, ummi ada kirim hantu kesini yach 😀

      salam rindu dan syng buat ummi .. muuaacchhh

  3. Alhamdulillah, anak solehah Umi ini memang cantik akhlaknya…
    Umi berbangga punya anak sebaik Neni, kalau Umi ada anak lelaki sebaya Neni pasti Umi jadikan menantu… 😉 Sayang, putera ganteng Umi masih berusia 10 tahun…hehehe.

    Tulisan ini, membuat Umi terharu akan keasih sayang seorang anak buat orang tuanya. Umi doakan Neni diganjari Allah SWT dengan syurga atas bakti yang dihulur buat papa dan mama tercinta. Insya Allah, sesiapa yang berbuat baik kepada orang tuanya akan dibalas kebaikan berlipat ganda juga di dunia lagi. Malah akan diberkati umurnya. Aamiin.

    Mudahan anak2 Umi juga berbuat bakti kepada Umi dan Abah setelah tua nanti. Aamiin.
    Umi juga mahu Neni menjaga Umi ya… hehehe, serasa mahu tua sudah ni. 😀

    Salam rindu selalu. 😀

    • ummi, nongol lagi, alhamdulillah, tak bosan2 ummi mengunjungi nak dara yang cantik ini (numpang narsis.com )

      yaaaahhh…. masih 10 tahun , padahal neni dah berharap, bisa nak jadi mantu ummi,setiap hari bersama, duuhh indahnya 😀

      Amin ya Allah, semoga do’a ummi segera terkabulkan dan di ijabah oleh Allah SWT, insyaallah, neni akan menjaga ummi dalam do’a

      salam sayang dan rindu selalu buat ummi … muaacchhh

  4. Hehehe… siapa tahu kalau bener jodohnya
    Kan Rasulullah sama Ummu Khadijah 15 tahun dong… kirain umurmu berapa dengan anak ganteng Umi itu nantinya di ke depan waktu… haahaha.

    lucu nih ada anak menantu “tua”… 😉

Tanpa Sapa dan Salam darimu kurang bermakna

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s