Jejak Mudhoiso


Bismillah, Makassar, 27 safar 1434 H

Mendapat tugas dari Pak dhe’, seru abiiisss, kisah yang digarap oleh pak dhe’ Misteri dibalik layar, dan kini Misteri tersebut terungkap.

15119_3991033900287_978230499_n

Inspektur Suzana lalu bergegas mencari bukti tentang kematian Mudhoiso. Hembusan nafas Mudhoiso mengisahkan banyak pertanyaan. Siapakah yang membunuh Mudhoiso, mengapa ia membunuh Mudhoiso. Jasad Mudhoiso segera dilarikan kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tak seorangpun di izinkan untuk melihat jasad Mudhoiso sebelum masa pemeriksaan selesai.

Keluarga Mudhoiso berharap agar pembunuhnya segera di temukan dan dihukum seberat-beratnya. Pihak keluarga menyerahkan kasus ini kepada inspektur Suzana, mereka percaya kepada inspektur untuk segera memecahkan misteri kematian Mudhoiso.

Mudhoiso adalah seorang Bapak yang hidup penuh dengan kesederhanaan, memiliki 2 orang anak dari satu orang istri, seorang lelaki dan seorang wanita. Nafkah keluarga dia cari dengan mengayuh sebuah becak tua disekitar kompleks rumah tempat tinggal mereka, dan sesekali berada dibalik layar untuk berperan sebagai wayang. Β Hidup yang penuh dengan kesederhaan dan kewibawaan, membuat keluarganya dicintai dan disegani oleh warga sekitar, tak lupa ia selalu mengeluarkan sedekah dari hasil mengayuh becak ataupun bermain wayang.

Hidup sehari-hari dengan penuh kasih sayang dan dukungan keluarga, membuatnya semakin merasa bertanggungjawab terhadap keluarganya, tidak pernah ia membiarkan rasa lapar akan melanda orang yang ia cintai, ia rela menahan lapar asal keluarganya kenyang, ia mampu menahan dinginnya hembusan angin malam asal keluarganya merasakan kehangatan. Pahitnya hidup tak pernah ia sesali, rasa syukur atas segala nikmat dari Yang Maha Kuasa, membuat hatinya menjadi lapang dan berbesar hati.

Istri Mudhoiso bersyukur memiliki seorang suami seperti dirinya, demikian pula sebaliknya. Istri Mudhoisi tidak pernah meminta lebih kepada dirinya, ia mengetahui kemampuan suaminya, ia menyadari apa yang mesti ia lakukan, pengertian darinya, mampu menghilangkan rasa angkuh dibenak Mudhoiso.

Mudhoiso, sungguh terkenal dengan hati yang mulia dan bijak, kadang ia memberi tumpangan gratis kepada ibu-ibu, bapak-bapak, ataupun anak-anak, jika mereka tidak memiliki uang kembalian ataupun mereka lupa membawa ongkos tumpangan becak. Hari Jum’at adalah hari spesial buat Mudhoiso, dia memberi tumpangan gratis sepanjang hari, dia tidak membiarkan para penumpang untuk memberinya balas jasa.

Mengayuh becak tua pada musim hujan adalah hal yang sangat sulit buatnya, harus bertahan dari hempasan air hujan dan hempasan badai angin yang kadang-kadang menghampiri. Meski hujan kadang menjadi hal tersulit, namun dia mampu meraup rejeki lebih banyak di kala hujan, karena banyaknya para pengguna becak membutuhkan jasanya untuk melindungi mereka dari sapaan air hujan.

Malam itu ditengah lebatnya hujan, gemuruhnya kilauan kilat dan petir serta hembusan angin, dia hendak melaju balik ke rumah. Pak Mudhoiso dikejutkan oleh sebuah kejadian yang membuatnya sangat ketakutan, tubuhnya semakin kedinginan dan kaku, peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi didepan matanya, dibalik sebuah gang kecil nan sunyi, matanya tertuju pada seorang pemuda yang sedang memegang sebuah senjata, dihadapan pemuda tersebut terbujur kaku seorang pria tegap yang ia kenal dengan baik. Lelaki tersebut adalah tetangga dekat pak Mudhoiso, tetangga yang selalu menyapanya dan menemaninya, tetangga yang sudah menjadi saudaranya.

Pemuda tersebut, tak menyadari jika pak Mudhoiso sedang melihat peristiwa tersebut, wajah pemuda itu tak akan terlupakan olehnya, raut wajahnya yang tergambar jelas meski hujan melanda, segera pak Mudhoiso meninggalkan tempat kejadian, lalu pemuda tersebut mengetahui keberadaan pak Mudhoiso yang menjadi satu-satunya saksi pembunuhan yang ia lakukan, ia lalu mengejar. Pak Mudhoiso semakin panik dan ketakutan, takut kalau pemuda tersebut menangkapnya dan akan menjadi korban selanjutnya, takut jika keberadaan keluarganya serta identitas tentang dirinya diketahui dan akan menjadi target pembunuhan berikutnya, ia mengkhawtirkan anak dan istrinya.

Pak Mudhoiso tidak mengetahui siapakah pemuda itu, ia ingin segera menjadi saksi peristiwa pembunuhan, namun ia tidak mampu menemukan jejak pemuda itu. Peristiwa ini, tidak pernah ia cerita kepada siapapun, baik kepada keluarganya maupun kepada orang lain. Setiap ia mengayuh becak mengelilingi sekitar gang, kota ataupun desa, tak henti matanya mencari sebuah jejak yang tak jelas. Saksi mata saat berada di tempat kejadian, bukanlah bukti yang kuat untuk menyeret pemuda tersebut, ia terus mencari dan mencari jejak pemuda tersebut.

Pemuda tersebut, merasakan ketidaknyaman dengan adanya seseorang yang menyaksikan pembunuhan malam itu. Pemuda tersebut lalu mencari jejak pak Mudhoiso, yang ia ketahui hanyalah seorang Bapak tua pengayuh becak, maka ia telusuri satu persatu pengayuh becak yang ada disekitar tempat tersebut.

Pak Mudhoiso mengetahui ada seorang pemuda sedang mencarinya, ia semakin ketakutan dan merasa tidak nyaman. Apa yang hendak dia lakukan, jika pemuda tersebut mengetahui keberadaannya, bagaimana dengan anak istrinya. Apakah ia akan pergi meninggalkan rumahnya, meninggalkan tanah kelahirannya, tanah tempatnya mengais rejeki, tanah dimana terdapat sebuah istana gubuk bahagia untuk dia, untuk istrinya dan untuk kedua buah hatinya.

Pemuda yang telah membunuh tetangganya adalah suruhan dari seorang yang sangat disegani di wilayah tersebut, ia merasa tersaingi oleh korban dan memiliki sifat dengki, sehingga timbullah dendam untuk segera menghabisi nyawa korban. Pemuda tersebut telah mengetahui tentang pak Mudhoiso, dan segera melapor keatasannya, bahwa dia telah menemukan saksi satu-satunya pada kejadian pembunuhan yang ia lakukan.

Malam ini, pak Mudhoiso akan segera memainkan sebuah peran sebagai seorang cakil pada pagelaran wayang di daerahnya, detik-detik usainya permainan, mata pak Mudhoiso terkejut menatap ke arah para penonton, disana, disudut, duduk lelaki tersebut, lelaki yang selama ini ia cari, lelaki yang telah menghabisi nyawa tetangganya yang sudah dia anggap sebagai saudaranya, dengan wajah yang masih dipenuhi oleh kebingungan dan rasa terkejut ternyata pemuda tersebut sedang mengawal seorang pria, apakah pria tersebut yang menjadi dalang dari perencanaan pembunuhan ini. Dia tak tahu, dia tak mampu menjawab teka teki yang menghampirinya.

Pagelaran telah usai, pemuda tersebut lalu berjalan menuju di balik layar, dan menghampiri pak Mudhoiso, tidak menunggu waktu yang lama, ia lalu membunuh pak Mudhoiso, tak ada seorang saksi yang melihat peristiwa ini, tim kerja telah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sungguh malang nasib pak Mudhoiso. Tapi, siapakah pria yang menjadi dalang dari semua peristiwa pembunuhan tetangganya dan pembunuhan pak Mudhoiso, hanya pak Mudhoiso adalah saksi satu-satunya, namun ia terbunuh sebelum mengungkap segala peristiwa pada malam itu dan malam ini.

Pak, pak, bangun, hari sudah terang. Bergegas pak Mudhoiso berlari untuk menyadarkan dirinya. Apakah semalam adalah sebuah kisah nyata atau hanyalah sebuah mimpi yang membuat dirinya merasa ketakutan, tergambar jelas terjadi peristiwa pembunuhan yang tragis, pembunuhan terhadap tetangganya dan juga dirinya.

Tak tega melihat pak Mudhoiso serta tetangganya terbunuh secara tragis yang akan membuat sedih keluarga mereka, maka saya garap menjadi sebuah mimpi, piss pak dhe’ πŸ™‚ πŸ˜‰ . Β Kisah diatas diikutkan dalam GA nya Pak dhe’ Cholik tentang mengungkap Mieteri dibalik layar, semoga bermanfaat.

Cakil1-207x300

Iklan

28 thoughts on “Jejak Mudhoiso

    • iya pak dhe’, terima kasih telah memberiku kesempatan melatih dan mengasah otak yang mulai tumpul πŸ™‚

      alhamdulillah, neni jadi peserta πŸ™‚

      salam hangat jua dr makassar

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Neni sayang….

    Sebelum membuat kritikan pedas dari hasil mimpi Pak Mudhioso, Umi amat berbangga dengan apa yang telah Neni hasilkan. Menunjukkan tingginya tahap imanjinasi yang dimiliki oleh Neni sekarang.

    Salut ya dengan 10 jempol (….hehehe, campur jempol gajah, harimau, beruang, ayam, kambing, sapi… ehh, dah cukup) πŸ˜€

    Teruskan usaha menulis dengan lebih giat lagi.
    Salam sayang dari Umi. πŸ˜€

    • Wa Alaikum Salam wr. wb.
      hhaahh umi nich, kritik pedas gimana yach, apa neni mampu memakannya πŸ™‚
      Alhamdulillah, neni nak asah otak biar ngk tumpul, meski hasilnya yaaaccchh, hanya umi yang mampu menilai
      banyak amat jempol dr umi, neni nak simpan dimana jempol tuh
      jempol umi 4, gajah 4, harimau 4, beruang 4, sapi 4, .. ayam…. jempol ayam 2 tp paling jadi totalnya berapa yach.. umi bantu dong hitungnya πŸ™‚

      insyaAllah umi, neni akan lebih giat lagi menulis dan mengasah otak nich, biar kalah ma ummi πŸ™‚

      salam sayang dan rindu selalu buat umi πŸ™‚

    • iya kang, banyak banget yng tega membunuh orang baik
      tp dalam fiksi neni, neni tak tega membunuh orang baik macam tuh πŸ™‚
      salam hangat selalu dr makassar, meski sekrng gi hujan πŸ™‚

  2. Secara telusnya, banyak kelemahan dari aspek plot penceritaan yang kurang teratur dan masih kabur. Ini bermaksud, Neni hanya menggunakan daya imajinasi yang “asal ada” sahaja dan tidak sabar-sabar untuk menghabiskan jalan ceritanya. Hmmmm… penulis yang kurang sabar ni….mie segera. πŸ˜‰

    Walaupun hanya kisah “sebuah mimpi”, seorang penulis seharusnya tahu menghidupkan mimpi itu menjadi seolah-olah benar terjadi di alam realiti.

    Penceritaannya masih kurang mantap tetapi sudah boleh dibanggakan atas ide-ide yang diusahakan. Ada tarikan, cuma Neni belum ada skill yang bisa membuat orang “luruh jantungnya”, debaran berganda atau ingin tahu keadaan “mudahnya” pembunuhan ke atas Pak Mudhoiso.

    Semasa membaca kisah ini, Umi sempat senyum “kambing”…hehehe, gimana ya. Mujur sahaja tidak guling-guling. Bila membaca ayat ini sahaja,

    “Hembusan nafas Mudhoiso mengisahkan banyak pertanyaan.”

    Umi sudah mengerut dahi. Kepada siapa nanti banyak pertanyaan itu timbul sedangkan di akhir cerita, tiada siapa yang melihat/saksi pembunuhan Pak Tua itu dan adakah dia mati serta merta ? Lebih menakjubkan dan melucukan….hehehe, sekejap Pak Mudhoiso mahu jadi penyiasat, sekejap dia jadi buruan. Hmmmm…. perasaan bolak balik itu, menimbulkan kecelaruan dalam menghasilkan kekuatan dan sangat rapuh penceritaaannya.

    Coba lagi ya, kasihan Pak Mudhoiso, hanya cuma bermimpi. syukurlah.
    hehehe, menulis cerita thrill seperti, seharusnya penulis tidak punya belas kasihan lho. πŸ˜‰
    Jiwa Neni penuh belas ihsan, maka tentu sekali banyak rasa kasihan muncul sehingga menjadi sebuah mimpi sahaja.

    Salam sayang dari Umi sekadar membantu membuat sedikit “reviu spesial” untuk Neni.
    Muuuaaaccchhhh… hadiah dulu, supaya tidak menangis. πŸ˜€ πŸ˜€

    • ngos… ngos..ngos aku baca ketikan umi nich.

      neni nak garang pada ummi,…. (keluar tanduk dan asap dr telinga sambil menatap foto umi )
      hiks.hiks.hiks… kritikan umi pedas beneran nich,
      rasanya mahu copot jantung nich, umi cakap tak biasanya πŸ˜‰

      iya, umi, neni terima saran dan kritikannya, demi keindahan bahasa dan pemikiran serta penulisan neni kelak, biar semua orang nak puas membaca tulisan aku, insyaAllah, amin ya Allah.

      iya, neni mengaburkan ada beberapa pemain, pemuda itu dan lelaki yang menjadi dalang dr pembunuhan, neni bingung mahu jadikan mereka apa, dan tak tahu nama yang cocok buat mereka πŸ™‚

      pernah neni belajar bahasa, dalam mengarang, alur yang bisa dibugunakan, alur maju, alur mundur atau alur maju mundur, neni nak pake semuanya, biar umi tambhah pusing πŸ™‚

      umi pusing yach, aku juga pusing ummi, itu saja dah hebat banget rasanya karena mampu mengetik sekata demi sekata nak teciptalah kisah yang memusingkan πŸ™‚

      aku baca artikel para kontestan lain, dan mereka hampir sama alur ceritanya, maka neni memilih alur cerita yang lain, aku hebatkan ummi πŸ˜‰

      neni tak boleh kejam ma orang baik, kasihan kalau dibunuh pak mudhoiso tuh, ntr anak ma istrinya nangis, mreka mahu makan apa, apa umi mahu nyumbang .. hehe
      kisah tersebut sbenarnya masih panjang umi dan belum kelar, tapi neni lihat dah panjang banget tulisannya, maka aku berhenti dengan sebuah mimpi πŸ™‚

      salam sayang buat ummi ,
      terima kasih atas kritikan umi, neni seneng ko’, neni butuh kritikan yang kayak gini buat langkah kedepan yang lebih baik, insyaAllah πŸ™‚ πŸ˜‰

  3. Apapun bentuk imajinasi yang tercipta dari cerita sebelumnya kamu telah melanjutkan ceritanya dengan bagus, bahkan terbilang hanya sedikit kontenstan yang melanjutkan ceritanya berlanjut di alam bawah sadar/ mimpi Mudhoiso …
    Sukses juga buat Neni, semoga menang ikutan GA nya Pak Dhe …

Tanpa Sapa dan Salam darimu kurang bermakna

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s