TIADA HARAPAN


Makassar, 15 sept. 2012

 

               “TIADA HARAPAN”. “TIADA HARAPAN”

               Saat itu aku berada di dalam kamar, makan malam, cuci piring dan beres-beres rumah telah usai saatnya untuk melemaskan otot-otot. Malam itu, tanggal 17 Agustus 2012 tiga hari sebelum idul fitri, sebagian keluarga ngerumpi di rumah kakak yang bersebelahan dengan rumah Bapak, mereka sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk menyambut idul fitri dan untuk acara aqiqahan anak dari adik saya, pokoknya Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.

               Anak dari kakakku yaitu Kiki, Qowi dan Fikri berada di dalam toilet, sedangkan Bapak berada di depan TV sedang asyik sendiri menyaksikan siaran TV, entah apa yang di saksikan, kerja Bapak lebih banyak di depan TV melihat kabar tentang dunia luar yang kini tak mampu lagi di jelajahi. Henignnya malam itu, kami dikagetkan oleh sebuah suara dan ternyata suara lantang dari Bapak, Bapak berkata “TIADA HARAPAN”, aku tersentak mendengarnya, dalam hati, saya berbisik ada apa dengan bapak mengapa beliau berkata demikian ?, apakah karena dia sedih dengan keadaannya yang sekarang ! yang hanya mampu berdiri dengan bantuan dinding, berjalan menggunakan tongkat, duduk di atas kursi roda, wudhu dan mandi dengan bantuan orang disekitarnya, apakah beliau merasa tak ada harapan lagi untuk sembuh dan sehat seperti dahulu lagi, berjalan kemana ia suka, berlari dan bekerja untuk anak-anaknya. Hatiku sedih saat bapak merasa putus asa.

               “TIADA HARAPAN”, “TIADA HARAPAN”, “TIADA HARAPAN”, lalu bapak mengulangi sepatah kata itu dan tak lama kemudian bapak menyambungnya lagi dengan sebuah kata “TIADA HARAPAN LAGI, KALAU TV BEGINI”, kami semua yang berada di dalam rumah serentak tertawa dengan air mata bahagia, ternyata keadaan TV sedang tidak baik, entah apa yang bisa di lihat karena TV rusak hanya ada gambar yang bergelombang-gelombang dan suara yang bising dan tak jelas bagai suara robot.

               Senyum bahagia tergores di bibir dan kamipun semua saling menatap dengan heran, baru kali ini kami mendengar dan melihat begitu besar keceriaan yang menghampiri bapak, baru kali ini kami mendengar lagi suara bapak bernyanyi penuh dengan kebahagian, kami sungguh bahagia pada peristiwa malam itu.

               Anak dari kakakku (ponakanku) lalu pergi dan berlari menghampiri mama dan kakakku, mereka menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam rumah, mereka berkata kakek mabuk, kakek bernyanyi dan berjoget, serentak mama dan kakak ikut tertawa. Lalu, mama masuk ke dalam rumah menyampaikan kabar yang telah di sampaikan ponakanku, bapak lalu tertawa, kamipun semua ikut tertawa, Alhamdulillah malam itu, suasana rumah jadi hangat dan penuh dengan keceriaan.

               Bapak, mama kuingin kebahagiaan itu selalu tergores di hari-harimu, jangan bersedih, kami semua menyayangimu meski kami kadang membuat hatimu marah dan tak memenuhi keinginanmu, tapi kami bahagia dan senang saat kalian bahagia. Kami hanya ingin memberi kalian yang terbaik agar engkau bangga memiliki kami, agar engkau mampu berdiri tegak di hadapan Allah saat engkau ditanya tentang kami. Ma’afkan segala salah dan khilaf kami ya ma… ya pa’….. do’akan kami agar kami mampu menjadi ladang pahala buatmu kelak di akhirat. Amin ya Allah ya Robbi…

               Ya Allah, sayangilah keluargaku

               Ya Allah, sayangi Bapakku

               Ya Allah, sayangi mamaku

               Ya Allah, sayangi saudara-saudariku

               Ya Allah, lindungi kami semua

               Ya Allah, berkahi keluargaku

               Ya Allah, Ridhoi keluargaku

               Ya Allah, goreskan senyuman kebahagian di hati kami,

 meski

dunia ini menggoreskan kepahitan

Iklan

6 thoughts on “TIADA HARAPAN

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb sayang anak Umi…

    Subhanallah, baru kini Umi bisa menyelami ke lubuk ilmu Neni setelah banyak halangan yang tempuhi untuk sampaiu ke mari. Ternyata ada posting baru yang menanti tanpa Umi sedari dan Neni pula tidak mengkhabarkan kepada Umi… ahhh, sedihnya.

    Umi senang membaca tentang bapak Neni yang semakin sihat dan penuh kelucuan dengan peristiwa yang benar-benar kaget pada awalnya. Umi ingat tiada harapan itu adalah tentang dirinya yang sudah sekian lama menderita sakit.

    Subhanallah, itu hanya satu keinginan dan pandangan kepada masalah tivi sahaja. Akhirnya Umi juga tersenyum sama.

    Semoga Neni dan keluarga di sana sentiasa ceria dan diberi kebahagiaan dalam kesatuan keluarga yang sentiasa kuat diikat oleh tali persaudaraan yang jitu. Umi turut merasai kebahagiaan yang Neni rasai. 😀

    Salam rindu dan kangen selalu dari Umi buat Neni yang selalu ada di hati.
    Sayang yang selalu indah untuk anak Umi yang solehah dan sentiasa sukses dalam pengajiannya.

    Senyummmmm manis dari Umi. 😀 😀

  2. Wa alaikum Salam WR. WB. umiku sayang
    iya, neni minta ma’aff karena tidak memberi kabar ke ummi tentng postingan baru ini, alhamdulillah, neni senang, kiranya ummi selalu mampir kesini meski hanya untuk mengecek keadaan laman neni sekanrng.. syukran ya ummiku syng, neni sayang ummi…….

Tanpa Sapa dan Salam darimu kurang bermakna

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s