Saat Mudik


Walau masa liburan dan masa mudik telah terlewati cukup jauh, kali ini saya ingin berbagi kisah kepada sahabat-sahabat semua, kisah semasa mudik lebaran idul fitri kemarin, semoga kisahnya tak membosankan🙂

Alhamdulillah, liburan idul fitri tahun ini tiba, senang rasanya, begitu senang dan sangat senang, hingga meneteskan airmata tanpa kusadari, sepulang dari kantor, yang terpikirkan hanya kampung halaman, begitu jam pulang tiba, bergegas saya pulang, tak lupa menyalami rekan-rekan kantor untuk meminta ma’af dan berpamitan.

Sebelum pulang kerumah, saya singgah dahulu untuk mengambil baju ditukang jahit, lalu singgah untuk membelikan bapak obat pesanannya, waaahh… waktu berjalan terasa begitu cepat, saya lalu menjemput sepupu yang akan mengantar saya keterminal tempat bus yang akan saya tumpangi menuju kampung halaman tercinta.

Sesuai berbuka dan sholat magrib, saya bergegas menuju keterminal. Diterminal saya masih tidak percaya, akhirnya setelah beberapa bulan saya bisa juga bertemu orang-orang yang saya cintai dikampung halaman, rasa haru dan bahagia bergelut didalam hati. Naik di bus, begitu banyak penumpang, jadi sesak rasanya, saya lalu mencari nomor kursi yang telah disediakan, tak lama kemudian ada seorang bapak yang menyapa saya, nomor kursinya berapa dek ?, saya jawab 29, oh disini, boleh tidak kita tukaran… oh… my god, ya Allah ada apa ini, nomor kursi bapak tersebut adalah nomor dua, berada didepan sekali, berada didepan pintu bus, nomor yang tidak saya sukai, karena begitu terbuka, orang-orang lalu lalang, kenet-kenet bus biasanya bermukim dihadapan kursi tersebut, kejadian apa ini, mana bisa saya tenang berada dikursi paling depan.

Dengan wajah kusut, saya menolak pertukaran nomor kursi tersebut, lalu bapak itu melapor kepada salah satu kenet mobil, tak lama kemudian kenet mobil tersebut datang menghampiri saya. Saya hanya berkata apa tidak ada nomor kursi bagian belakang, saya tidak mahu bagian depan, saya tidak suka. Alhamdulillah, Allah menolong saya, ada seorang cewek yang mahu tukaran dengan kursi bagian depan, saya lalu mendapat nomor kursi 13.

Penumpang telah duduk dikursinya masing-masing, lalu datang seorang yang akan mengabsen para penumpangnya, apakah sudah tidak ada lagi yang tertinggal, tiba-tiba dia tidak setuju dengan pertukaran yang kami susun, sayapun disuruh ke nomor kursi yang pertama. Istri dari bapak yang menukarkan nomor kursinya dengan nomor kursi saya, berteriak, tolong kebijaksanaannya karena saya memiliki anak kecil, jika saya terpisah dengan suami, tidak akan ada yang membuatkan susu buat anak saya, Saya lalu duduk disamping ibu tadi, dia menggerutu, apa tidak bisa tukar ?, saya tidak bisa membuatkan susu buat anak saya. saya hanya berkata pada ibu tersebut, ini hanya sementara saja bu’, nanti kalau mobil sudah jalan bisa ditukar lagi, ibu tersebut lalu tenang mendengar apa yang saya katakan.

Mobil telah melaju meninggalkan terminal bus, saya masih duduk disamping ibu tersebut, tidak tenang rasanya karena begitu sempit, dilantai bawah penuh dengan tas perlengkapan anaknya sehingga kaki saya tidak dapat berpijak. Kepala sudah merasa pusing, rasanya ingin mabuk, beberapa kilometer dari terminal, bus singgah disebuah toko yang biasa disebut ”Roma” (roti maros) tepatnya di kabupaten Maros tak jauh dari kota Makassar, di toko ini, bus selalu singgah untuk membeli roti buat ole-ole atau buat bekal selama perjalanan, saya lalu turun dan hanya membeli sebungkus keripik dan air teh buat bekal selama perjalanan, ditempat ini, saya lalu berkata kepada kenet mobil tersebut, saya mahu tukar kursi sekarang, diapun segera mengatur posisi kami.

Masa untuk belanja di toko ini telah usai, mobil sudah siap untuk melanjutkan perjalanan, saya lalu naik, dan segera berpindah tempat dikursi nomor 13, ada rasa senang dan juga rasa tak suka. Senangnya karena saya mendapat kursi dekat jendela, letaknya agak tersembunyi dari pandangan orang yang sering lewat, yang tidak saya sukai adalah duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki, sepanjang perjalanan tidur saya tidak tenang, takut kalau bersentuhan atau tidak menyadari bersandar kepada lelaki tersebut.

Rasa ketidaksukaan itu terbayar dengan rasa bahagiaku untuk segera berjumpa dengan keluarga tersayang, keluarga yang kucintai, terutama bapak dan mama, tidak sabar ingin menatap wajah mereka, memberikan ole-ole yang telah kusediankan. Apa mereka akan menyukai apa yang telah kubelikan, pikiran hanya tertuju kepada mereka semua. Ketidaksabaran untuk berjumpa membuat menjadi lupa dengan ketidaksenangan, dan rasa sesak yang ada di dalam bus tersebut.

Perjalanan dari kota Makassar hingga kekampung halaman tercinta, memakan waktu sekitar 12 jam, waktu tempuh yang begitu sangat lama, setiap yang mendengarnya selalu heran dan kaget, tapi saya hanya berkata, tidak terasa karena berangkatnya malam, jadi kita tidur.

Meski saya tak dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman, tak terasa pagi hari telah menghampiri, adzan subuh telah berkumandang, tak lupa sang sopir menghentikan laju kendaraannya tepat didepan sebuah masjid, bergegas saya berdiri dan segera melaksanakan kewajiban kepada sang khalik. Dikantor, rekan-rekan sudah mengenal kebiasaan saya, saat wudhu dan sholat pasti membutuhkan waktu yang cukup lama, karena harus melepas jilbab, kaos kaki serta memasangnya lagi saat wudhu dan sholat telah saya kerjakan, hal tersebut, terjadi juga saat saya mengerjakan sholat saat itu, orang-orang sudah antrian didepan toilet untuk menuggu saya keluar, malah ada yang mengetuk pintu toilet untuk memberi isyarat, hal yang paling tidak saya suka saat mengerjakan sesuatu lalu orang lain mengusiknya, membuat saya menjadi tidak tenang dalam berwudhu.

Saat keluar dari toilet, waaahhh jadi kaget juga melihat antrian yang rata-rata adalah ibu –ibu, nunggu sembako yach bu’🙂 . saya lalu masuk ke dalam masjid dan mengeluarkan alat sholat dari dalam tas, segera saya menunaikan 2 raka’at sholat subuh, satu persatu jama’ah telah usai melaksanakannya, tinggal saya dan seorang jama’ah lagi disebelah saya. Kayaknya beda bus dengan bus yang saya tempati, usai sholat, saya lalu merapikan jilbab, biar lebih rapi dan lebih indah dipandang😉 , saya lalu melangkah meninggalkan masjid tersebut, jadi kaget dibuatnya, halaman depan masjid sudah sepi, tak ada lagi penumpang yang sedang menunggu, saya lihat bus, Alhamdulillah, masih ada menunggu, saya lalu melangkahkan kaki naik ke bus, saat duduk, mobil langsung melaju melanjutkan perjalanan, ternyata sisa saya seorang diri yang sedang ditunggu😀, tak berani saya melirik kekanan kekiri takut ada penumpang yang memberi senyuman kusut kepadaku🙂.

Sepanjang perjalanan, saya menatap indahnya alam di subuh hari, begitu sejuk dan menciptakan suasana damai dalam hati, daerah sekitar terdapat pepohonan, kebun, sawah, yang masih asri, terasa begitu sejuk karena malam harinya, daerah tersebut telah ditercurahkan oleh Rahmat Allah berupa air hujan.

Saat matahari mulai menyinari, keindahan alam semakin bertambah, saya sempat merekamnya melalui ponsel, dan berniat akan membagikan kepada ummi Fatimah beserta teman-teman blog lainnya, agar semua dapat merasakan keindahan perjalananku selama 12 jam, tapi hal itu tak dapat saya realisasikan, setelah saya cek hasil rekaman di ponsel, ternyata semua hasil tidak jelas😀, saya juga tidak tahu mengapa demikian !, maaf yach teman-teman, ma’af ya ummi, neni belum bisa berbagi keindahan perjalanan neni selama liburan.

Detik waktu telah tiba, sampailah saya ditempat tujuan, sang sopir lalu menghentikan laju mobilnya tepat didepan masjid, ternyata sang kakak telah menunggu kedatangan saya, saya lalu menurunkan seluruh barang bawaan. Alhamdulillah, saya dapat berjumpa dengan orang-orang yang tercinta, mereka semua telah menunggu kedatangan saya, saya tak tahu apakah menunggu kedatangan saya atau sedang menunggu ole-ole yang saya bawa🙂, yang jelas saya bahagia dan senang dapat berjumpa dan berbagi ole-ole dengan mereka semuanya terutama bapak dan mama.🙂

16 thoughts on “Saat Mudik

Tanpa Sapa dan Salam darimu kurang bermakna

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s