BAPAK KENAPA YACH ……!!!!!


Seperti tahun-tahun kemarin, lebaran tahun ini di desa saya terbagi dua, ada yang lebaran pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 dan ada lebaran pada hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011, dikeluarga saya terjadi perbedaan pendapat dengan kakak lelaki saya, diapun memilih untuk lebaran pada hari Rabu sedangkan saya dan beberapa saudara/saudari serta keluarga lainnya memilih hari Selasa untuk melakukan sholat idul fitri.

Saat saya beserta keluarga lainnya melakukan sholat idul fitri, kakak lelaki saya datang kerumah dan bertemu dengan Bapak, diantara mereka terjadi perdebatan tentang pelaksanaan idul Fitri, kabar ini saya dapatkan dari adik dan kakak saya, bahwa sewaktu melaksanaan sholat idul fitri di lapangan, bapak dan kak jisman (nama kakak lelaki saya) telah berdebat tentang pelaksanaan hari idul fitri, diantara mereka tak ada yang mahu mengalah, kakak lelaki sayapun terus berdebat dan tak memikir perasaan bapak yang terus dilanda rasa sedih, saya paham dengan pendapat kakak saya, tapi untuk situasi bapak yang sekarang sebaiknya jangan terlalu banyak perdebatan yang akan semakin membuatnya bersedih hati.

Watak Bapak dan kakak memang agak keras, mereka akan terus mempertahankan apa yang mereka anggap benar, sejak kecilpun Bapak mendidik kami dengan sikapnya yang keras, jika beliau berkata ini dan berkata itu, maka kami akan mematuhinya, saat melanggar kami akan mendapat hukuman, saya bersyukur beliau mendidik saya dengan baik, sehingga saya dapat tumbuh dan besar menjadi seorang wanita yang haus akan kasih sayang beliau.

Pelaksanaan Idul Fitri pada hari Selasa, mama tidak ikut beserta kami karena mama sedang menjaga bapak, bapak tidak bisa ditinggal sendiri, beliau sedang dalam keadaan sakit ”STROK”, sakit ini menyerangnya sekitar dua tahun yang lalu, beliau hanya mampu duduk dikursi roda, sesekali ia berdiri dan hanya mampu bertahan beberapa menit saja, saat ia sedang merasa lelah, beliau akan berbaring, kegiatan bapak sehari-hari hanya mampu menatap kami yang sedang asyik mondar-mandir kesana kemari dengan keadaan yang normal.

Hari Rabu adalah pelaksanaan Idul Fitri yang kedua untuk orang-orang yang belum melaksanakan pada hari Selasa, sudah beberapa tahun, hal ini melanda desa saya, hanya Allah yang tahu kebenaran dari perbedaan ini. Hari ini saya menyuruh mama untuk segera bergegas pergi melaksanakan Idul Fitri di masjid dekat rumah. Sebaiknya mama pergi karena kemarin tidak sempat ikut melaksanakan sholat idul fitri bersama kami, itulah yang kukatakan pada mama, awalnya mama menolak karena takut akan telat, tapi saya terus membujuknya untuk pergi, beliaupun bersiap-siap dan segera pergi ke masjid tempat dilaksanakannya Idul fitri.

Sambil beres-beres rumah, bapak lalu menghampiri saya dan bertanya ”mama kamu kemana ?”, saya jawab : ”mama pergi lebaran”. bapak hanya terdiam mendengar ucapan yang saya lontarkan, lalu pergi meninggalkan saya dan tanpa berkata apapun. Beliau menuju ruang yang terdapat sebuah TV sebagai hiburannya disaat ia merasa lelah untuk tidur dan duduk diteras rumah.

Hanya beberapa menit bapak mampu bertahan didepan TV, beliau lalu bergegas menuju kamar tidurnya, dengan keras menutup pintu kamarnya serta menguncinya, saya tidak menyadari hal tersebut, apakah Bapak sedang marah, saya tidak menanggapi hal tersebut sebagai curahan amarah bapak yang sedang bergelut didalam hatinya, dengan tenang saya masih fokus melaksanakan pekerjaan rumah, membersihkan ruang yang berantakan, membereskan perlengkapan dapur, serta mencuci piring yang kotor, itu adalah salah satu rutinitas saya selama menjalani liburan kali ini.

Pelaksanaan Idul fitri telah usai, orang-orang telah pulang menuju rumah keluarganya masing-masing untuk segera bersalaman dan meminta ma’af, ada beberapa orang datang kerumah meski mereka tidak memiliki hubungan keluarga dengan kami, tapi sebagai keluarga sekampung, mereka datang untuk bersalaman dengan keluarga kami terutama kepada Bapak (orang yang dituakan dikampung saya).

Tamu pertama memberi salam dan segera masuk kedalam rumah untuk bersalaman dengan bapak, tapi bapak masih didalam kamarnya dan tak keluar, saya berusaha untuk membangunkannya dan segera membuka pintu kamarnya, beberapa kali mengetuk pintunya tapi tak ada balasan dari bapak, sejenak saya khawatir ada apa dengan bapak ?, mengapa ia tidak menghiraukan sapaan saya, padahal didepan kamarnya sedang menunggu seorang untuk bersalaman dengannya, beberapa menit bapak juga tak membuka pintu kamarnya, saya hanya mampu berkata kepada orang ini ” bahwa bapak sedang istirahat”, dan ia berkata ”iya, tidak mengapa salam saja kepada bapak” lalu orang ini pergi meninggalkan rumah, tanpa sempat kusiapkan secangkir teh untuknya.

Kekhawatiran saya belum juga berhenti, saya takut kalau didalam kamar bapak sedang berbuat sesuatu yang saya tidak kira (astagfirullah hal adzim), mengapa saya harus berpikir yang tidak-tidak tentang bapak, sayapun pergi didepan jendela kamarnya dan mengintip masuk kedalam kamar bapak , didalam kamar saya melihat bapak sedang tidur dan berselimut, kekhawatiran saya sudah agak redah. Alhamdulillah, bapak tidak sedang berbuat yang aneh-aneh.

Rumah semakin ramai dengan kehadiran saudara-saudara bapak, tapi bapak belum juga membuka kamarnya, kami sudah bergantian untuk membuka kamar beliau, tapi tak ada balasan. Adik, kakak dan kakak ipar tak diam untuk membujuk bapak agar segera membuka kamarnya, adik saya bolak balik mengintip bapak lewat jendela, sedang apa bapak didalam, kekhwatiranpun melanda mereka, seperti yang saya rasakan. Adik hanya berkata bapak didalam sedang tidur dan berselimut, mungkin ia sedang kedinginan.

Saudara bapak sudah lama menunggu, ada seorang yang berteriak ”oohh daeng, kenapa dikamar terus”, tidak lama kemudian bapak lalu membuka kamarnya dan menyapa tamu yang sedang menunggunya, dalam hati saya merasa lega, Alhamdulillah. Ada apa dengan Bapak, baru kali ini dia berbuat demikian, mengunci pintunya dan lama baru membukanya, kemarin-kemarin beliau tidak pernah mengunci kamar, keheranan melanda saya dan saudara-saudara, pertanyaan bahwa ”ada apa dengan Bapak”, menjadi misteri tersendiri yang belum saya temukan jawabannya hingga saat ini, tak ada keberanian untuk mempertanyakan kepada beliau, kami hanya menyimpulkan bahwa bapak sedang marah.

Sifat marah bapak selama ini begitu mudah menghampiri, dikondisinya yang saat ini, membuatnya lemah untuk melawan sifat itu, terutama saat mama pergi tanpa izin. oohh iya, saat itu mama tidak meminta izin untuk pergi melaksanakan sholat idul fitri, mungkin itu adalah salah yang membuat bapak menjadi kesal dan mengunci kamarnya :).

Iklan

18 thoughts on “BAPAK KENAPA YACH ……!!!!!

  1. hhmmm..
    beda pendapat bisa sampai sperti itu ya? 😀
    alhamdulillah di tempat saya juga ada dua idul fitrinya, tpi damai2 saja. Saya satu keluarga juga ada yg beda idul fitrinya. tpi ya ga sampai timbul perdebatan seperti itu… 😀

    • 🙂
      perdebatan itu awalnya saya tak tahu tp ada kakak yang cerita dengan saya,
      kakakpun memberi comentar kepada saya, tapi saya acuh sj lah,
      enjoy menjalani segala perbedaan ini, jika dilayani terus akan semakiin memperparah keadaan, diam adalah cara terbaik.. 🙂

      trims telah berkunjung kak,

    • 🙂
      insyaAllah dik dhila, kakak akan bersabar,
      semoga keluarga dik dhila juga demikian, bersabar dan terus berusaha adalah jalan yang terbaik dalam hidu ini 🙂
      salam adindaku

  2. jaman islam dulu enaknya ada orang2 shaleh yg dipercaya oleh ummat (dlm penentuan shaum/lebaran)….klo sekarang orang2 shaleh itu berubah wujud menjadi suatu lembaga/ormas yang terkadang (sering) membuat bingung ummat……
    wallahualambisshowab…..

    • iya, dijaman sekarng kita semakin bingung dalam memutuskan sesuatu,
      semoga segala niatan baik dan perbuatan baik kita diterima oleh Allah SWT, amin

      terimakasih telah mampir
      wassalam

  3. tetap bersabar ya..perbedaan itu adalah fitrah kok…
    semoga ayahanda selalu diberi kesabaran dan segera diberikan kesehatan…
    saya juga dibesarkan dengan sifat “otoriter” bapak, alhamdulillah setelah semua anaknya beranjak dewasa, Bapak sedikit demi sedikit mulai berubah…
    salam

    • insyaAllah mas, saya akan terus berusaha untuk bersabar menjalani kehidupan ini, terutama saat berhadapan dengan beliau yang begitu mulia yaitu orangtua, 🙂

      alhamdulillah, dibalik sifat keras tersebut, ada kelembutan yang tersimpan dan akan tertuang disaat yang tepat 🙂

      salam 🙂

Tanpa Sapa dan Salam darimu kurang bermakna

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s