Hidayah ditukar denGan Nafas


 

Kisah ini dikisahkan oleh murobbiyahku, ia menceritakan saat kami bertemu di majelis ilmu yang biasa disebut dengan ”TARBIYAH”, hati saya sangat tersentuh oleh kisah ini, matapun berkaca-kaca dibuatnya, begitu harunya hati saya dengan kisah ini yang begitu istiqomah pada sang Kholiq. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2008 yang lalu.

Seorang Akhwat yang bercadar yang memiliki kegiatan menyebarkan dakwah Allah SWT dan Rosul_Nya, aktif pada kegiatan dakwah dan tak henti-hentinya menyebarkan syiar dakwah kepada para umat Nabi Muhammad SAW.

Saat takdir berada didepan mata dan tak dapat dielak. Takdir itu adalah kehendak dari sang Pencipta, dimana akhwat tersebut harus menerima perjodohan yang telah ditetapkan keluarga, meski keduanya tidak saling menginginkan perjodohan dan terlaksannya pernikahan. Sang akhwat berpikir, tak mungkin ia menikah dengan laki-laki yang kurang paham agama, Laki-laki yang bersifat modern, sedangkan sang lelaki juga berpikir bahwa tak mungkin ia menikah dengan wanita bercadar dan kurang gaul terhadap dunia modern.

Pernikahanpun terlaksana dan mereka berdua hidup sebagai sepasang suami istri dalam sebuah rumah, dihari-hari yang mereka lalui tak henti-hentinya terjadi suatu perbedaan pendapat, tapi sebagai seorang wanita yang paham betul tanggungjawabnya sebagai seorang istri, ia tak pernah mengecewakan sang suami baik dalam pekerjaan rumah ataupun pekerjaan lainnya yang merupakan tanggungjawabnya.

Satu hal penyebab seringnya terjadi pertengkaran adalah saat sang istri ingin mengerjakan aktifitasnya sebagai seorang da’iyah, menghadiri halaqoh Tarbiyah, tempat tarbiyah dengan tempat tinggalnya jauh sehingga dia harus ditemani oleh seorang mahrom. Setiap kali sang istri ingin bepergian, diapun membujuk sang suami untuk menemaninya, sang suami bersedia untuk mengantarjemputnya, meski dengan hati yang penuh dengan rasa tidak suka dan kesal, beberapa kali sang istri melakukan hal ini dan setiap kali ia membujuk sang suami, pertengkaran tak henti menghampiri.

Pernah sekali sang istri mengajak para akhwat lainnya untuk mengadakan pertemuan halaqoh dirumahnya tapi sang suami sangat marah dengan keadaan ini dan tidak menyukai mereka semua beraktifitas dirumahnya, karena berbagai macam gunjingan para tetangga membuatnya menjadi gerah. Sang suamipun berkata kepada istrinya ” KAMU TIDAK USAH MENGAJAK TEMAN-TEMANMU DATANG KERUMAH INI LAGI, TERSERAH KALIAN INGIN BERBUAT APA ASAL JANGAN DIRUMAH INI LAGI ”. lalu sang istri berkata ” SAYA TAK INGIN MENYUSAHKAN DIRIMU DUA KALI UNTUK MENGANTARKU KETEMPAT TARBIYAH, MAKA SAYA MENGADAKAN PERTEMUAN DIRUMAH SAJA ”.

5 Tahun usia pernikahan dan dikaruniai dua buah hati, dalam pemberian namapun mereka berbeda pendapat dimana sang suami menginginkan nama untuk anak lelakinya adalah FRANS dan anak perempuannya adalah JESSICA, sedangkan sang istri menginginkan AHMAD dan FATIMAH. Penyebutan namapun untuk mereka berdua berbeda, sang suami ingin menggunakan nama MAMI dan PAPI sendang sang istri menginginkan ABI dan UMI, mereka lalu sepakat bahwa penggunaaan kata ABI dan UMI hanya berlaku jika kita cuma berdua saja, sedangkan untuk khalayak ramai tidak berlaku, namun tak jarang istri memanggilnya ABI meski dikhalayak ramai.

Tak henti-hentiya sang istri berdo’a dan memohon kepada Allah SWT untuk memberikan Hidayah kepada Suaminya, meski rumah tangganya telah terjalin selama 5 tahun tapi perbedaan dan pertengkaran belum saja usai, tiba pada saat sang istri ingin menghadiri lagi kegiatan TARBIYAH, dengan penuh kasih sayang dan kelembutan ia membujuk sang suami untuk mengantarnya pada Majelis tesebut, sang suamipun bersedia untuk mengantarnya, tiba ditempat tujuan sang suami berkata ” JIKA KEGIATANNYA TELAH SELESAI, PULANG SAJA DENGAN MENGGUNAKAN ANGKOT, TIDAK USAH DIJEMPUT LAGI”.

Kegiatan telah usai , sang istri menghubungi sang suami tapi tidak dihiraukan, lalu ia mengirim pesan ” ABI, KEGIATAN UMI TELAH SELESAI, MOHON UNTUK DIJEMPU, UMI TUNGGU YAH”, tak ada balsan juga, lalu ia mengirim pesan lagi ”ABI, KEGIATAN UMI TELAH SELESAI, TEMAN-TEMAN UMI TELAH PULANG SEMUA. MOHON ABI UNTUK MENJEMPUT UMI.”. Dengan setia sang istri menunggu dan tidak meninggakan tempat tersebut tapi tak ada balasan apapun dari sang suami, lalu ia mengirim lagi pesan ” ABI SAKIT YAH, KALAU BEGITU UMI PAMIT PULAN DENGAN MENGGUNAKAN ANGKOT, KARENA HARI SUDAH MENJELANG MALAM”.

Sang suami menunggu dirumah, dengan gelisah ian menunggu kedatangan istrinya, perkiraan seharusnya sang istri telah tiba beberapa menit yang lalu, ditengah kegelisahaannya terdengar dering HP dan ternyata dari nomor sang istri, saat dia menjawab terdengar suara yang bukan dari istrinya, wanita yang menghubunginya menjelaskan ” ISTRI ANDA MENGALAMI KECELAKAN, SAAT MENYEBERANG UNTUK MENUNAIKAN SHOLAT MAGRIB, SEBUAH MOBIL MENGHAMPIRINYA, KARENA BEGITU BANYAK DARAH YANG KELUAR SAAT DIPERJALANAN, ISTRI ANDA TIDAK DAPAT TERTOLONG”. Sang suami lalu bergegas menghampiri istrinya, dan dia melihat pakaian istrinya masih utuh dan tidak terbuka satupu, lalu wanita yang menolongnya menjelaskan ” ISTRI ANDA BERPESAN AGAR TAK SEORANGPUN LELAKI YANG MENYENTUHNYA DAN IA JUGA BERKATA AGAR PAKAINNYA TAK DILEPAS SEBELUM KELUARGANYA DATANG MENJEMPUTNYA”.

Semoga kisah ini dapat menggugah hati kita sebagai seorang Hamba Allah SWT, mempertahankan keistiqomahan meski badai masalah menghadapi, sesulit apapun Masalah pasti ada jalan keluarnya, Alhamdulillah dengan peristiwa ini, sang suami aktif dilembaga-lembaga dakwah, Hidayah Allah begitu berharga, meski harus dbayar dengan pengorbanan yang menghempaskan nafas.

”SESUNGGUHNYA SETELAH KESUSAHAN AKAN DATANG KEMUDAHAN, IA AKAN BERGILIR KEPADA SETIAP MANUSIA, ALLAH AKAN MEGGILIRNYA UNTUK MENILAI KETEGUHAN CINTA HAMBA_NYA”.

Iklan

31 thoughts on “Hidayah ditukar denGan Nafas

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, nanda Neni….

    Umi datang di malam hari menemui Neni di sana untuk bertanya khabar dan menyampaikan rindu yang dalam. Didoakan sihat selalu.

    Demikianlah Allah mentakdirkan kita dengan jodoh yang tidak kita duga siapapun. Redhailah siapa yang menjadi teman hidup. Susah senang sama-sama. perkahwinan seharusnya dibina atas dasar sekufu. Sekufu bukan sahaja dari aspek pangkat, harta, ilmu malah fikrah juga. jika tidak akan berlaku percanggahan pendapat walau usia perkahwinan sudah banyak.

    Memang bener, ujian dakwah selalu berada dalam keluarga sendiri. Hanya kekuatan iman, keteguhan hati dan yakin bahawa akan ada perubahan yang berlaku walau harus dibayar dengan nyawa. Kisah di atas harus menjadi pengajaran buat kita terutama sang suami yang jadi ketua keluarga.

    Umi fikir, inilah yang mengakibatkan Neni selalu risau ya… hehehe. Sabar Nen,
    Umi senang nama Umi dan ayah Umi jadi pilihan (walau hanya sebuah kisah). Ia mengingatkan Umi ketika memilih nama anak lelaki, awalnya mesti ada nama Ahmad atau Muhamad. Oleh kerana nama ayah Umi adalah Ahmad, jadi pilihan jatuh kepada nama Muhammad. Mudahan banyak kebaikan yang kita perolehi dalam kehidupan ini.

    Salam sayang dari Umi di Sarikei, Sarawak. 😀

    • Wa Alikum Salam wr. wb.

      senang rasanya saat mengetahui umi bertamu dilaman ananda, ditengah malam gelap gulita pula umi datang menyapa, waaaahhhh jadi terharu melihat perhatian umi pada ananda…
      Alhamdulillah kabar ananda baik.

      umi tahu saja kalau hal ini meresahkan hati neni, iya umi neni takut kalau jodohnya tidak yang neni harapkan, neni takut tak dpt istiqomah…

      hhaaahhh….neni baru sadar ternyata nama umi terdapat dikisah ananda,..

      😉

      salam rindu dan salam sayang jug buat umi yang jauh diseberang…..

      😉

  2. Setiap ujian datangnya dari setiap orang-orang terdekat kita terlebih dahulu. Semoga kita dapat menghadapi segala permasalahan hidup ini dengan selalu berhati yang jernih dan pikiran yang positif.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  3. Astaghfirullaah..
    semoga bisa seperti akhwat itu ukh..

    aamiin ya Robb..
    Sungguh mulia sekali.. jazakillah tausiyahnya ukhtiy..
    kalau bgitu izin tuker link nih ukh..
    syukron..

  4. keluarga ya? hehe..
    kapan saya bisa berkeluarga ya..dan bisa mengajak mereka untuk meraih surga bersama sama..
    hmm..pasti tenang..
    salam

  5. Rasulullah pun dalam berdakwah mendapat tantangan dari kerabat dekatnya sendiri, sementara sahabat justru mendukung perjuangannya. Namanya berjuang memang memerlukan pengorbanan yang besar.

  6. Subhanallah….
    Betapa sang istri mempunyai kesabaran yang luar biasa; betapa istiqamah dalam jalan dakwah itu harus dipegang erat hingga ujung usia. Sungguh, terima kasih banyak telah berbagi hal yang penting ini.

  7. Assalammu’alaikum… salam kenal mbak Neni 🙂
    hix, kisah yang mengharukan… Inspiratif. Saya jadi nangis, duuh jangan-jangan gudeg dagangan jadi asin nih 😀

    Subhanalloh, pengaturan Alloh SWT adalah rahasiaNya. Kita tidak pernah tau keputusannya tentang hidup, jodoh dan mati hingga saat Dia menunjukkannya. Mudah-mudahan kita dimasukkan dalam golongan hambanya yang beruntung, amiiin

    • amin, semoga do’a dik uvi dimakbulkan oleh Allah SWT, 😉

      syukran atas do’anya yach dek, 🙂

      iya, ini kisah nyata yang dikisahkan oleh murobbiyah kk saat menghadiri majelis…

Tanpa Sapa dan Salam darimu kurang bermakna

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s